MENURUT PENDAPAT SAYA
Bagi saya, dua ungkapan ini memiliki nuansa makna yang berbeda, yaitu antara "menurut saya" dengan "menurut pendapat saya."
Sebelum membahas perbedaannya, saya ingin memberi penekanan pada kata "pendapat". Secara sederhana, saya memaknai kata ini berakar pada kata "dapat", yaitu sesuatu yang telah diperoleh. Sesuatu yang didapat itu bisa berupa ilmu, pengalaman, pengamatan, informasi, atau pelajaran yang kemudian diolah melalui proses berpikir hingga melahirkan sebuah kesimpulan. Dengan cara pandang ini, sebuah pendapat bukan sekadar sesuatu yang muncul begitu saja dari dalam kepala, melainkan sesuatu yang lahir dari apa yang telah diperoleh dan diproses oleh akal.
Karena itu, ungkapan "menurut saya" cenderung menyandarkan pernyataan langsung kepada diri sendiri. Kalimat ini dapat digunakan untuk menyampaikan apa pun yang ada dalam pikiran seseorang, baik berupa kesan, perasaan, penilaian, maupun pemikiran yang belum tentu disertai dasar atau argumentasi tertentu.
Sementara itu, ungkapan "menurut pendapat saya" mengandung makna bahwa apa yang disampaikan merupakan hasil dari proses memperoleh, memahami, dan mengolah berbagai informasi. Dengan kata lain, sebuah pendapat idealnya bukan sekadar hasil imajinasi, melainkan kesimpulan yang lahir dari proses memahami, membandingkan, dan mempertimbangkan berbagai hal.
Sebuah pendapat dapat dibangun dari akumulasi pengalaman pribadi, pemahaman terhadap suatu ilmu, hasil membaca berbagai referensi, pemikiran para ahli, maupun rangkaian fakta yang kemudian dianalisis hingga menghasilkan sebuah kesimpulan. Pendapat memang tidak selalu benar, tetapi setidaknya memiliki landasan yang dapat dijelaskan dan dipertanggungjawabkan.
Itulah sebabnya, ketika seseorang berkata kepada saya, "Menurut pendapat saya...", saya cenderung menganggap bahwa ia sedang menyampaikan sebuah pandangan yang memiliki dasar, bukan sekadar dugaan atau khayalan yang muncul begitu saja. Saya menghargai pernyataan tersebut sebagai hasil dari proses belajar, berpikir, atau pengalaman yang telah ia jalani.
Karena itu pula, saya berharap setiap kali seseorang mengemukakan pendapatnya, ia juga bersedia menjelaskan dari mana pendapat tersebut berasal. Apakah lahir dari pengalaman yang pernah dijalaninya, dari buku dan tulisan yang telah dibacanya, dari hasil penelitian yang dipelajarinya, atau dari penjelasan para ahli yang menjadi rujukannya.
Tentu saja, dalam praktik berbahasa sehari-hari, banyak orang menggunakan ungkapan "menurut saya" dan "menurut pendapat saya" sebagai sinonim. Hal itu sah-sah saja karena keduanya memang sama-sama digunakan untuk menyampaikan pandangan pribadi. Namun, dalam kerangka pemikiran yang saya gunakan, ungkapan "menurut pendapat saya" memberikan penekanan bahwa apa yang disampaikan telah melalui proses memperoleh pengetahuan, mengolah informasi, dan menyusun argumentasi, sedangkan "menurut saya" lebih bersifat umum dan tidak selalu menunjukkan adanya landasan tertentu.
Itulah sebabnya saya lebih menyukai penggunaan ungkapan "menurut pendapat saya" ketika membahas suatu persoalan yang memerlukan argumentasi. Bagi saya, sebuah pendapat yang baik bukan hanya menyatakan apa yang diyakini, tetapi juga mampu menjelaskan mengapa keyakinan itu muncul dan apa dasar yang melatarbelakanginya.
*Gambar hanya pemanis buatan, tidak ada hubungannya dengan narasi.