Lalu muncul pertanyaan, apakah menjadi seorang trainer, narasumber, atau pengajar itu harus selalu berbayar?
Jawabannya, tentu tidak.
Ada kalanya seseorang memilih mengajar tanpa menerima bayaran sebagai bentuk ibadah, rasa syukur, atau kepedulian sosial kepada mereka yang membutuhkan. Berbagi ilmu secara cuma-cuma adalah sebuah amal yang sangat mulia, terlebih jika dilakukan untuk membantu orang-orang yang memiliki keterbatasan ekonomi atau akses terhadap pendidikan.
Hal seperti ini bukan hanya dilakukan oleh para trainer. Banyak profesi lain juga melakukannya. Ada pengacara yang memberikan layanan *pro bono* melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Ada dokter yang mengadakan pengobatan gratis dalam kegiatan bakti sosial. Bahkan banyak pedagang makanan yang rutin berbagi melalui program Jumat Berkah. Semua itu merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang lahir dari kepedulian, bukan karena profesinya tidak bernilai.
Namun, kita juga harus membedakan antara kegiatan sosial dan profesi.
Pada hakikatnya, jasa edukasi berupa training, pelatihan, workshop, bimbingan, kursus, maupun pendampingan adalah layanan profesional. Sama seperti dokter, pengacara, arsitek, konsultan, atau profesi lainnya, seorang trainer juga mengandalkan keahlian dan ilmunya untuk mencari nafkah. Tidak ada yang salah dengan itu. Justru itulah makna sebuah profesi.
Karena itu, ketika kita mengundang seorang trainer, guru les, narasumber, atau pengajar lainnya, sudah selayaknya sejak awal dibicarakan mengenai honorarium yang akan diberikan. Berapa pun nilainya, yang terpenting adalah adanya penghargaan terhadap jasa yang diberikan.
Kalaupun kemudian sang trainer memilih memberikan potongan harga, bahkan mengajar secara cuma-cuma karena alasan sosial atau kedekatan pribadi, itu adalah bentuk kebaikan hati yang patut disyukuri. Bukan sesuatu yang otomatis menjadi kewajiban.
Yang sering membuat saya prihatin adalah ketika ada guru mengaji, guru les, penceramah, atau trainer yang diundang untuk mengajar tanpa pernah sekalipun ditanya, "Berapa honor yang Bapak atau Ibu harapkan?"
Seolah-olah waktu, tenaga, pengalaman, dan ilmu yang mereka miliki tidak memiliki nilai ekonomi.
Yang lebih menyedihkan lagi, tidak sedikit orang yang menganggap seorang trainer atau narasumber hanya ingin tampil di depan banyak orang demi mencari popularitas atau sekadar ingin terlihat eksis. Padahal kenyataannya jauh berbeda.
Di balik satu atau dua jam sesi pelatihan, ada puluhan bahkan ratusan jam yang telah dihabiskan untuk belajar, membaca, mengikuti pelatihan, melakukan riset, menyusun materi, memperbaiki metode penyampaian, hingga membangun pengalaman selama bertahun-tahun.
Peserta mungkin hanya melihat seseorang berbicara di depan ruangan. Namun yang sesungguhnya mereka nikmati adalah hasil dari perjalanan panjang yang penuh proses, pengorbanan, dan investasi diri.
Bahkan tidak jarang terjadi, seseorang meminta seorang trainer atau pengajar datang langsung ke tempatnya, sementara jadwal pelaksanaannya harus menyesuaikan dengan kesibukan pihak yang mengundang. Waktu, tenaga, dan biaya perjalanan seolah dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Ironisnya, setelah semua itu dipenuhi, masih ada pula yang berharap seluruh materi diberikan secara cuma-cuma.
Padahal ilmu yang diminta bukanlah pengetahuan umum yang dapat diperoleh dengan mudah melalui internet, melainkan kompetensi yang dibangun melalui proses belajar, pengalaman, riset, pelatihan, serta praktik selama bertahun-tahun. Bahkan tidak sedikit materi yang merupakan hasil pengembangan metode dan pengalaman profesional yang menjadi aset utama seorang trainer.
Tentu kurang bijaksana apabila ilmu yang diperoleh melalui perjalanan panjang tersebut dianggap tidak memiliki nilai hanya karena disampaikan dalam suasana yang santai atau penuh keakraban.
Karena itu, honor seorang trainer bukanlah pembayaran untuk dua jam berbicara. Honor tersebut adalah bentuk penghargaan atas ilmu, kompetensi, pengalaman, dan dedikasi yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap profesi penyebar ilmu. Menghargai guru, trainer, tutor, ustaz, penceramah, maupun narasumber bukan semata-mata soal memberikan honorarium. Lebih dari itu, ini adalah tentang menghormati ilmu pengetahuan dan orang-orang yang dengan ikhlas mendedikasikan hidupnya untuk menyebarkannya.
Sebab masyarakat yang menghargai ilmu akan melahirkan generasi yang berilmu. Dan bangsa yang menghargai para pengajarnya adalah bangsa yang sedang membangun masa depannya sendiri.
* Gambar rekayasa AI, hanya pemanis buatan.

Tidak ada komentar