Ai dan Penulis: Mengapa Saya Tidak Merasa Resah


Belakangan ini saya membaca cukup banyak unggahan di media sosial yang menunjukkan keresahan sebagian kalangan penulis terhadap kehadiran AI. Dari sana muncul berbagai narasi yang bernada sinis, bahkan ada yang terkesan mencela orang-orang yang memanfaatkan AI dalam proses berkarya, termasuk saya.

Lalu, apakah saya merasa terganggu dengan keberadaan orang-orang yang anti terhadap AI?
Jawaban saya sederhana: tidak.
Mengapa? Karena saya merasa tidak memiliki urusan, apalagi hak, untuk memaksa orang lain menyukai atau membenci sesuatu, termasuk teknologi AI. Itu adalah pilihan masing-masing.
Bagi saya, ini adalah persoalan preferensi sekaligus hak setiap individu. Setiap orang berhak menentukan sikapnya terhadap perkembangan teknologi. Selama perbedaan itu tidak diwujudkan dalam bentuk serangan pribadi, ujaran kebencian, fitnah, atau tindakan yang melanggar hukum, saya tidak melihat alasan untuk mempermasalahkannya.
Kalau dipikir-pikir, andaikan ada banyak penulis yang memilih tidak menggunakan AI, justru itu bisa menjadi keuntungan bagi saya. Maksud saya sederhana, semakin sedikit orang yang memanfaatkan AI secara optimal, semakin sedikit pula kompetitor di bidang yang saya tekuni.
Hehe... tentu saya menyampaikan ini sambil tersenyum.
Pada akhirnya, menggunakan AI atau tidak, menyukai atau menolaknya, adalah hak setiap penulis. Saya menghormati semua pilihan tersebut karena setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing.
Bagi saya, para penulis yang memanfaatkan AI dapat menjadi teman berdiskusi, bertukar pengalaman, dan saling belajar untuk mengembangkan cara kerja yang lebih efektif. Sementara itu, teman-teman yang memilih tidak menggunakan AI juga memberikan pelajaran berharga. Kehadiran mereka justru menunjukkan adanya ceruk atau ruang yang berbeda. Saya bisa mengembangkan bidang-bidang yang mungkin belum mereka garap, sehingga terbuka peluang baru untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas karya.
Namun, izinkan saya menjelaskan bagaimana saya memosisikan AI dalam dunia kepenulisan.
Bagi saya, AI bukanlah pengganti penulis. AI adalah alat kerja. Sama seperti komputer menggantikan mesin tik, atau kalkulator membantu perhitungan yang rumit. Yang berpikir tetap manusia, yang memiliki gagasan tetap manusia, dan yang bertanggung jawab atas isi tulisan juga tetap manusia.
Kalau tujuan menulis adalah menuangkan ilmu, pengalaman, gagasan, atau hasil pemikiran kepada orang lain, maka AI hanyalah teknologi yang membantu tujuan tersebut tercapai dengan lebih cepat, lebih efisien, dan lebih presisi. AI membantu memperbaiki tata bahasa, menyusun kalimat agar lebih rapi, merangkum informasi, mencari sudut pandang baru, hingga mengurangi pekerjaan-pekerjaan teknis yang menyita waktu.
Saya sering mengibaratkannya seperti perjalanan dari Samarinda menuju Tenggarong.
Kalau dilakukan secara konvensional, kita bisa berjalan kaki atau bahkan berlari. Tidak ada yang salah dengan cara itu. Namun jika tersedia sepeda motor atau mobil, bukankah lebih bijaksana memanfaatkan kendaraan? Tujuannya tetap sama, yaitu sampai di Tenggarong. Bedanya, perjalanan menjadi lebih cepat, tenaga lebih hemat, dan waktu lebih efisien.
Teknologi hadir memang untuk membantu pekerjaan manusia, bukan untuk menghilangkan nilai manusia itu sendiri.
Akan tetapi, analogi itu tentu tidak berlaku dalam semua keadaan.
Misalnya, jika yang diadakan adalah lomba lari Samarinda–Tenggarong. Menggunakan mobil atau sepeda motor jelas tidak dapat dibenarkan karena melanggar aturan perlombaan. Esensi lomba tersebut adalah mengukur kemampuan berlari, bukan kemampuan memanfaatkan kendaraan.
Begitu pula dalam dunia kepenulisan.
Jika seseorang mengikuti lomba menulis yang memang bertujuan mengukur kemampuan peserta dalam menyusun narasi secara mandiri, maka penggunaan AI tentu tidak etis apabila aturan lomba melarangnya. Dalam konteks seperti itu, saya pun sepakat bahwa peserta harus menulis sendiri. Justru di situlah kemampuan asli seorang penulis sedang diuji.
Artinya, benar atau salahnya penggunaan AI sangat bergantung pada konteks dan aturan yang berlaku.
Perumpamaan lain adalah ketika membuat kue.
Dahulu, telur dikocok menggunakan tangan atau alat tradisional. Namun sekarang tersedia mixer yang mampu melakukan pekerjaan yang sama dengan hasil lebih cepat, lebih ringan, dan lebih konsisten.
Kalau tujuan kita adalah memproduksi ribuan kue untuk memenuhi pesanan pelanggan, tentu menggunakan mixer merupakan pilihan yang logis. Tidak ada pelanggan yang kemudian berkata, "Kue ini tidak enak karena telurnya dikocok memakai mixer."
Yang dinilai adalah kualitas kuenya, bukan alat yang digunakan.
Sebaliknya, jika yang diikuti adalah perlombaan membuat kue, panitia bisa saja menetapkan bahwa seluruh proses harus dilakukan secara manual agar keterampilan peserta benar-benar terukur. Bahkan menariknya, dalam banyak kompetisi kuliner modern, peserta tetap diperbolehkan menggunakan mixer, oven listrik, food processor, atau berbagai peralatan modern lainnya. Yang dinilai bukan semata-mata cara mengocok telur, melainkan kreativitas, teknik, cita rasa, dan hasil akhirnya.
Demikian pula dengan AI. Kehadirannya hanyalah salah satu bentuk perkembangan teknologi yang membantu proses bekerja.
Hal lain yang sering terlupakan adalah bahwa AI juga melahirkan jenis keterampilan baru.
Orang sering mengira menggunakan AI hanya sekadar mengetik satu kalimat lalu langsung memperoleh hasil yang luar biasa. Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Untuk memperoleh hasil yang baik, seseorang harus mempelajari cara menyusun prompt, memahami logika AI, memilih model yang tepat, memanfaatkan berbagai fitur, melakukan evaluasi, menyunting hasilnya, hingga menggabungkannya dengan pengetahuan yang dimiliki. Semua itu merupakan keterampilan baru yang membutuhkan proses belajar, latihan, dan pengalaman.
Menurut saya, keterampilan tersebut tidak pantas dianggap sebagai ilmu yang buruk, apalagi "sesat". Justru ia merupakan bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sejarah menunjukkan bahwa setiap kemajuan teknologi hampir selalu menimbulkan penolakan pada awal kemunculannya.
Ketika komputer menggantikan mesin tik, ada yang khawatir kemampuan mengetik akan hilang. Ketika kamera digital hadir, ada yang menganggap fotografi kehilangan nilai seninya. Ketika perangkat lunak seperti CorelDRAW, Adobe Illustrator, atau Photoshop mulai digunakan secara luas, sebagian orang juga menganggapnya mengancam seni lukis konvensional karena tidak lagi mengandalkan kuas dan cat.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Teknologi tersebut melahirkan profesi-profesi baru, membuka peluang ekonomi baru, dan menciptakan cabang keterampilan baru seperti desain grafis, ilustrasi digital, animasi, hingga industri kreatif yang hari ini menjadi kebutuhan hampir di semua bidang.
Saya melihat AI berada pada jalur yang sama. Ia bukan musuh kreativitas, melainkan alat yang dapat memperluas kemungkinan berkarya apabila digunakan secara bertanggung jawab.
Karena itu, saya tidak melihat perbedaan sikap terhadap AI sebagai sesuatu yang harus dipertentangkan. Biarlah setiap orang memilih jalannya masing-masing. Saya menghormati teman-teman yang ingin menulis sepenuhnya secara konvensional, sebagaimana saya juga berharap pilihan saya untuk memanfaatkan AI sebagai alat bantu dihormati.
Pada akhirnya, yang akan dinilai oleh pembaca bukanlah apakah sebuah tulisan dibuat dengan atau tanpa AI, melainkan apakah tulisan itu bermanfaat, akurat, jujur, memiliki nilai, serta mampu memberikan inspirasi dan solusi bagi orang lain.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.