Sertifikat Penting, Tetapi Keterampilan Lebih Penting


Saya pernah mengikuti sebuah pelatihan yang diselenggarakan oleh sebuah instansi di Kaltim. Pelatihan ini memang bukan pelatihan khusus tentang AI. Namun, salah satu materi yang disampaikan dalam pelatihan sehari tersebut adalah penggunaan AI dalam pekerjaan kami sebagai pranata humas.

Tentu saja, saya berharap materi ini dapat menambah kemampuan para peserta, termasuk saya sendiri, dalam memanfaatkan kecerdasan buatan. Sayangnya, sejak awal hingga akhir sesi, tidak satu pun keterampilan praktis tentang AI yang benar-benar ditularkan kepada peserta.
Yang terjadi bukanlah proses mengajar atau melatih, melainkan lebih menyerupai “pamer” pengetahuan tentang AI. Pemateri memang piawai menjelaskan seluk-beluk AI, menyebutkan berbagai model dan istilah yang terdengar canggih. Namun, semuanya berhenti pada cerita—bukan pengajaran, apalagi pelatihan yang aplikatif.
Saya yakin, dari ratusan peserta yang hadir, hampir tidak ada yang mengalami peningkatan keterampilan dalam menggunakan AI untuk pekerjaan sehari-hari. Bahkan, untuk sekadar memahami penjelasan yang disampaikan pun, saya percaya sebagian besar peserta mengalami kesulitan.
Sahabat dan kerabat sekalian, inilah potret yang sering kita jumpai dalam banyak “acara” pelatihan. Banyak pemateri yang sesungguhnya pintar dan hebat, tetapi sayangnya tidak semuanya mampu menularkan keterampilan kepada orang lain. Pintar saja tidak cukup; kemampuan mengajar dan melatih adalah keahlian yang berbeda.
Berdasarkan pengalaman itulah, saya sangat memahami jika ada sebagian orang yang ragu—apakah saya mampu mengubah mereka yang semula gaptek menjadi mampu menghasilkan karya-karya luar biasa dengan bantuan AI. Bisa jadi, keraguan itu lahir dari pengalaman mengikuti berbagai pelatihan AI, bahkan yang dibawakan oleh tokoh-tokoh terkenal, tetapi setelah pelatihan selesai, mereka tetap tidak bisa apa-apa.
Mungkin terlintas di benak mereka, “Kalau pakarnya saja tidak bisa membuat saya bisa, apalagi orang yang tidak terkenal?”
Namun, Alhamdulillah, hingga detik ini belum pernah ada satu pun peserta pelatihan saya yang mengeluh karena tidak mampu berkarya setelah mengikuti pelatihan. Bahkan, sering kali ketika pelatihan baru berjalan, peserta sudah mampu menghasilkan karya sesuai dengan materi yang sedang dipelajari.
Maka, sahabat dan kerabat sekalian, mari kita kembalikan orientasi mengikuti pelatihan pada tujuan yang sesungguhnya: memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Bukan sekadar terlihat keren karena dilatih oleh tokoh terkenal.
Sebab, ukuran keberhasilan sebuah pelatihan bukanlah siapa yang menandatangani sertifikat kehadiran, melainkan apakah pesertanya benar-benar mampu mempraktikkan apa yang telah dipelajari.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.