Memuat Tanggal...
BREAKING NEWS
Sedang memuat berita terkini...

Meski Tak Punya Ijazah, Saya Juga Merasa Alumni Ittihad

Web Master Juli 14, 2026

Dulu, pada era 1990-an, tempat ini masih berupa Pondok Pesantren Ittihad. Di sinilah saya pernah nyantri untuk memperdalam ilmu Bahasa Arab, khususnya Nahwu dan Sharaf.

Saat itu saya sudah bersekolah di Madrasah Aliyah Al Jihad, mengambil jurusan Agama. Kurikulum yang saya pelajari didominasi oleh ilmu-ilmu dasar keislaman, seperti Bahasa Arab, Ushul Fikih, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, dan berbagai disiplin ilmu agama lainnya.
Namun, saya menyadari ada satu kekurangan yang cukup mendasar. Saya merupakan lulusan SMP Negeri yang sama sekali tidak mendapatkan pelajaran Bahasa Arab. Akibatnya, ketika memasuki Madrasah Aliyah, saya merasa cukup tertinggal dibandingkan teman-teman yang sebelumnya belajar di madrasah atau pesantren.


Karena itulah saya berusaha mengejar ketertinggalan tersebut dengan belajar di Pondok Pesantren Ittihad. Meski kelas yang saya ikuti masih setingkat Tsanawiyah, saya tidak merasa keberatan. Yang saya cari bukanlah jenjang pendidikannya, melainkan ilmunya. Saya hanya ingin membangun fondasi Bahasa Arab yang sebelumnya nyaris nol.
Bersama sahabat saya, Ustadz Kadrie Ruslie, beberapa kali dalam seminggu kami mengaji Nahwu dan Sharaf secara talaqqi kepada Ustadz Ahmad Syaikhoni, seorang kiai muda alumni salah satu pondok pesantren di Pacitan waktu itu.
Walaupun belum sampai pada tingkat mahir, alhamdulillah kami berhasil mengejar sebagian ketertinggalan. Bekal itulah yang kemudian sangat membantu ketika kami melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Saya diterima di IAIN Antasari Banjarmasin, Fakultas Tarbiyah Samarinda, Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). Sementara sahabat saya, Ustadz Kadrie Ruslie, melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah dengan mengambil konsentrasi Hukum Keluarga.

Puluhan tahun berlalu.
Pada Selasa, 14 Juli 2026, Allah kembali mempertemukan saya dengan tempat yang penuh kenangan ini. Kali ini bukan sebagai santri, melainkan sebagai pemateri dalam kegiatan Masa Ta'aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) di MTs Ittihad.
Ada perasaan yang sulit diungkapkan ketika kembali berdiri di tempat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan menuntut ilmu. Banyak kenangan masa muda yang kembali hadir.
Meski saya bukan alumni formal MTs Ittihad, saya tetap merasa memiliki ikatan batin dengan lembaga ini. Sebab, di sinilah saya pernah belajar, duduk sebagai santri, dan berusaha mengejar ketertinggalan dalam memahami Bahasa Arab.

Hidup memang penuh kejutan. Dulu saya datang ke tempat ini sebagai pencari ilmu. Kini, puluhan tahun kemudian, Allah memberi kesempatan kepada saya untuk kembali, bukan lagi sebagai murid, melainkan sebagai orang yang diminta untuk berbagi ilmu.
Barangkali inilah salah satu keindahan perjalanan hidup: tempat yang pernah menjadi ruang kita belajar, suatu saat bisa menjadi tempat kita berbagi.